LSPR dan Mitra Netra Dorong Komunikasi Inklusi Melalui Eksplorasi Sensorik Aroma bagi Disabilitas Netra
![]() |
| Yayasan Mitra Netra dan LSPR |
BISNISTRUST.COM, JAKARTA – Mahasiswa Program Pascasarjana Komunikasi London School of Public Relations (LSPR) Communication and Business Institute bersinergi dengan Yayasan Mitra Netra menggelar inisiatif bertajuk “Ruang KolaboRASA” dan “Diskusi Inklusi”.
Kegiatan yang berlangsung di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Jumat (27/2) ini bertujuan membedah dominasi pendekatan visual dalam komunikasi merek dan ruang publik yang selama ini dinilai kurang aksesibel bagi penyandang disabilitas netra.
Melampaui Batas Visual dalam Komunikasi
Persoalan mendasar yang diangkat dalam forum ini adalah ketergantungan industri kreatif dan pengelola ruang publik pada aspek visual. Padahal, bagi penyandang tunanetra, pengalaman sebuah brand dapat dibangun secara lebih mendalam melalui pendekatan multisensorik, mencakup aroma, suara, sentuhan, hingga narasi deskriptif.
Sebagai perwujudan prinsip inklusi sejak awal acara, setiap narasumber memperkenalkan diri dengan mendeskripsikan penampilan fisik secara verbal, seperti warna pakaian dan ciri khas tertentu. Praktik ini bertujuan memberikan gambaran utuh kepada peserta tunanetra mengenai identitas pembicara, sekaligus menunjukkan kesadaran terhadap keberagaman kebutuhan audiens.
Kaitan Psikologis Aroma dan Memori
Akademisi LSPR, Ibu Hersinta, Ph.D., yang hadir sebagai narasumber bertema “Aroma, Ingatan, dan Pengalaman: Cerita Kita tentang Sesuatu yang Kita Kenal”, menjelaskan landasan saintifik di balik pemilihan aroma sebagai medium komunikasi. Beliau memaparkan bahwa saraf penciuman memiliki jalur langsung menuju sistem limbik di otak yang mengatur emosi dan memori.
“Mayoritas pengalaman publik dirancang berbasis visual. Padahal, pendekatan multisensorik membuka peluang agar pengalaman tersebut dapat dirasakan secara lebih luas dan setara,” ujar Hersinta.
Senada dengan hal tersebut, Cheta Nilawaty, jurnalis tunanetra pertama di Indonesia sekaligus anggota Yayasan Mitra Netra, menegaskan bahwa inklusi sejati tidak hanya terbatas pada aksesibilitas fisik seperti guiding block. “Inklusi adalah bagaimana kami dapat merasakan pengalaman secara utuh. Elemen aroma dan penjelasan deskriptif membuat kami merasa benar-benar dilibatkan,” tegasnya.
Testimoni dan Eksplorasi Taktil
Kegiatan ini turut menghadirkan sesi eksplorasi langsung menggunakan adonan roti kopi. Para peserta diajak berinteraksi dengan tekstur adonan (taktil) dan menghirup aromanya yang kuat untuk memahami transformasi produk dari bahan mentah hingga menjadi komoditas siap saji.
Seorang peserta bernama Suryo mengungkapkan bahwa pendekatan ini jauh lebih personal. “Aroma tersebut langsung membangkitkan memori rumah dan kehangatan keluarga. Pengalaman seperti ini membuat saya merasa sungguh diikutsertakan,” tuturnya.
Dukungan juga datang dari figur publik Dude Harlino melalui pesan audio. Ia mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap kebutuhan disabilitas dalam kehidupan sehari-hari dan mendukung penciptaan ruang publik yang ramah bagi semua kalangan.
Kolaborasi Berbasis Data dan Insight Komunitas
Perwakilan mahasiswi Pascasarjana LSPR, Baby Bintansyah, yang juga seorang penyandang low vision, menekankan bahwa kegiatan ini adalah bentuk pengakuan atas eksistensi komunitas. “Di sini, pengalaman kami tidak sekadar didengar, melainkan dijadikan dasar untuk perubahan kebijakan komunikasi,” ungkapnya.
Labaika Natin, praktisi digital marketing yang turut terlibat, menambahkan bahwa strategi branding yang berkelanjutan tidak boleh lahir dari asumsi semata. Menurutnya, insight nyata dari komunitas adalah fondasi agar solusi komunikasi menjadi lebih relevan dan terukur. Sementara itu, Andika Wattimena, praktisi media, menekankan pentingnya representasi autentik yang hanya bisa dicapai dengan melibatkan komunitas secara langsung dalam proses produksi konten.
Acara ditutup dengan sesi buka puasa bersama, mempertegas komitmen kolaboratif antara akademisi dan komunitas untuk mewujudkan masa depan komunikasi yang tidak lagi meminggirkan peran indra non-visual.

Posting Komentar